Kamis, 03 Mei 2012

Mengatasi Sembelit dengan Jus Apel



img
Sembelit atau konstipasi adalah kondisi yang tidak menyenangkan dan berbagai cara dilakukan orang agar bisa terbebas dari masalah ini. Sembelit ternyata bisa diatasi dengan mengonsumsi jus apel.

Suatu kondisi disebut sembelit jika seseorang buang air besar kurang dari 3 kali dalam seminggu. Seseorang akan merasakan perut yang penuh atau kembung serta rasa sakit saat buang air besar. Kondisi ini tentu saja membuat tidak nyaman dan mengganggu.

Dikutip dari Healthcentral, Selasa (6/7/2010) ada berbagai macam penyebab dari sembelit yaitu kurang asupan serat, kurang minum yang membuat pergerakan usus lebih lambat, kurangnya olahraga, mengonsumsi obat tertentu, perubahan gaya hidup, mengabaikan rasa ingin buang air besar dan beberapa penyakit tertentu seperti irritable bowel syndrome serta penyakit lain yang berhubungan dengan organ pencernaan.

Terdapat beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menghentikan sembelit, seperti mengambil obat pencahar, berolahraga, mengonsumsi serat dari sayuran dan buah. Tapi salah satu metode terbaik yang bisa mengatasi sembelit adalah menggunakan jus apel.

Berikut ini beberapa cara yang bisa dilakukan dengan jus apel untuk menyingkirkan sembelit, seperti dilansir Buzzle:

Metode 1
Jika mengalami kasus sembelit ringan, minumlah jus apel segar dan jus pir setelah bangun tidur di pagi hari dan satu jam sebelum tidur.

Pir dan apel ini membantu memberikan serat tambahan dan mineral, vitamin serta zat lain yang bisa membersihkan usus besar, ginjal serta regenerasi sel-sel darah.

Metode 2
Jika mengalami kasus sembelit kronis, maka konsumsi campuran antara jus apel dan prune setidaknya 3-4 kali setiap hari. Jika memungkinkan konsumsi juga jus apel segar.

Sebaiknya jus apel yang dikonsumsi adalah jus yang dibuat sendiri dan tidak berasal dari kemasan, karena ada kemungkinan jus apel sudah bercampur dengan bahan dari kemasan tersebut.

Buah apel sendiri sebenarnya tidak mengandung kolesterol dan memiliki cukup serat yang bisa membantu mengatur pergerakan usus besar, karena itulah mengonsumsi jus apel bisa membantu mengatasi sembeit.

Gangguan Pola Makan dan Jenisnya

Gangguan Pola Makan & Jenisnya
bulimiaGangguan pola makan adalah suatu obsesi seseorang dengan makanan & berat badan yang merugikan kesehatan. Meskipun setiap orang terkadang pernah merisaukan mengenai berat badannya, tetapi pada penderita gangguan pola makan, mereka melakukan segala cara (bahkan yang ekstrem sekalipun) untuk menghindari terjadinya kenaikan berat badan.

Di Amerika sendiri menurut sumber dari National Association of Anorexia Nervosa and Associated Disorders, terdapat 8.000.000 penderita gangguan pola makan, dimana 90 % diantaranya adalah wanita. Gangguan pola makan dapat dialami oleh siapa saja tua-muda, kaya-miskin & biasanya mulai berawal dari masa remaja, tetapi dapat juga dimulai dari usia dini seperti umur 8 tahun.

Gangguan pola makan adalah gangguan pada emosional & fisik penderita yang dapat membahayakan jiwa penderitanya. Gangguan tersebut meliputi emosi yang ekstrim & gangguan tingkah laku serta kebiasaan yang mengelilingi masalah mengenai berat badan & makanan.

Berikut jenis gangguan pola makan yang medicastore ambil dari www.nationaleatingdisorders.org :

  1. Anorexia Nervosa
    Adalah gangguan pola makan dimana penderitanya sengaja untuk menahan lapar supaya dapat mengurangi berat badan secara berlebihan. Biasanya penderita anorexia nervosa selalu merasa gemuk meskipun tubuhnya terlihat sangat kurus sekali. Anorexia nervosa telah banyak memakan banyak korban di dunia mode internasional seperti kematian model asal Brasil, Ana Carolina Reston & model asal Perancis, Isabelle Caro.
  2. Bulimia Nervosa
    Penderita bulimia nervosa ditandai dengan fase makan secara berlebihan (lebih dari yang biasa dimakan seseorang) kemudian diikuti dengan fase pembersihan atau pengeluaran melalui cara memuntahkan makanan, penyalah gunaan obat pencahar ataupun olahraga secara berlebihan. Mendiang putri Diana pernah mengakui bahwa dirinya juga pernah mengalami bulimia nervosa.
  3. Makan tanpa kontrol (binge eating/compulsive overeating)
    Penderita binge eating biasanya ditandai dengan periode makan secara tak terkontrol, kompulsif & terus menerus melebihi batasan perasaan ‘kenyang’. Meskipun tidak ada fase pembersihan/pengeluaran, penderitanya dapat melakukan berhenti makan secara tiba-tiba atau melakukan diet ketat. Penderita “binge eating” juga seringkali merasa malu atau tersiksa setiap kali habis makan. Mereka juga biasanya juga menghadapi masalah emosional seperti kecemasan, depresi & kesepian, yang dapat memberikan kontribusi terhadap terhadap terjadinya gangguan pola makan. Berat badan penderita “binge eating” dapat bervariasi antara normal, sedang hingga yang menderita obesitas berat.
Penyebab Gangguan Pola Makan
Penyebab gangguan pola makan diatas terdiri dari beberapa faktor, seperti yang medicastore ambil dari www.mayoclinic.com berikut ini :
  • Faktor Biologi
    Ada gen yang dapat membuat orang tertentu lebih mudah untuk mengalami gangguan pola makan. Orang dengan anggota keluarga terdekat yang mengalami gangguan pola makan (seperti saudara kandung atau orang tua) juga lebih mudah untuk mengalami gangguan pola makan, sehingga dikaitkan dengan adanya hubungan genetik. Sebagai tambahan terdapat bukti yang menunjukkan bahwa serotonin (senyawa kimia yang terdapat di otak) dapat mempengaruhi kebiasaan makan seseorang.
  • Faktor Kesehatan Psikologi & Emosional
    Orang yang menderita gangguan pola makan seringkali juga mempunyai masalah psikologi & emosional yang berkontribusi terhadap gangguan tersebut. Mereka bisa jadi mempunyai kepercayaan diri yang rendah, perfeksionisme, prilaku impulsif, kesulitan untuk mengontrol kemarahan, konflik keluarga & kesulitan untuk membina hubungan.
  • Faktor Lingkungan
    Budaya pada masyarakat barat modern seringkali juga menimbulkan & memperkuat keinginan untuk menjadi kurus. Kesuksesan & penghargaan seringkali dikaitkan dengan menjadi kurus pada kebudayaan pop saat ini. Tekanan dari teman sebaya & yang dilihat orang di berbagai media dapat meningkatkan keinginan seseorang untuk menjadi kurus, terutama pada gadis remaja.
Tanda & Gejala Terjadinya Gangguan Pola Makan
Berikut adalah beberapa tanda & gejala terjadinya gangguan pola makan yang dapat diwaspadai oleh para orang tua & keluarga, yang medicastore ambil dari www.mayoclinic.com :
  1. bulimiaTanda & gejala anorexia nervosa.
    • Menolak untuk makan & menyangkal rasa lapar.
    • Ketakutan yang sangat terhadap kenaikan berat badan.
    • Mempunyai gambaran terhadap diri sendiri yang negatif.
    • Melakukan olahraga secara berlebihan.
    • Mempunyai perasaan & mood yang datar.
    • Sibuk dengan makanan.
    • Menarik diri dari lingkungan sosial.
    • Penampakan yang kurus.
    • Pusing atau pingsan.
    • Adanya bulu halus di seluruh tubuh (lanugo).
    • Mengalami haid yang tidak teratur/tidak sama sekali haid (amenorrhea).
    • Konstipasi/sembelit.
    • Nyeri pada perut.
    • Kulit kering.
    • Sering merasa kedinginan.
    • Detak jantung yang tidak teratur.
    • Tekanan darah yang rendah.
    • Dehidrasi.
  2. Tanda & gejala bulimia nervosa.
    • Makan hingga merasa sakit, biasanya dengan makanan yang tinggi lemak atau manis.
    • Menginduksi diri sendiri untuk muntah.
    • Penggunaan laksatif/pencahar.
    • Olahraga secara berlebihan.
    • Fokus terhadap berat badan & bentuk tubuh yang tidak menyehatkan.
    • Mempunyai gambaran diri sendiri yang negatif.
    • Pergi ke toilet setiap habis makan atau diantara waktu makan.
    • Merasa tidak bisa untuk mengendalikan kebiasaan makan.
    • BAB yang tidak normal.
    • Memiliki kerusakan gigi & gusi (akibat terkena asam lambung saat memuntahkan makanan).
    • Pembengkakan pada kelenjar air liur di daerah pipi.
    • Sakit di mulut & tenggorokan.
    • Dehidrasi.
    • Detak jantung yang tidak teratur.
    • Adanya lecet, luka atau terlihat tulang di buku jari/tangan.
    • Mengalami haid yang tidak teratur/tidak sama sekali haid (amenorrhea).
    • Melakukan diet atau puasa secara terus menerus.
    • Kemungkinan juga mengalami penyalahgunaan obat terlarang ataupun minuman beralkohol.
  3. Tanda & gejala makan tak terkontrol (binge eating).
    • Makan hingga merasa sakit.
    • Makan dalam jumlah yang banyak di waktu-waktu tertentu (saat mengalami episode binge) dibandingkan waktu biasanya.
    • Makan lebih cepat (saat mengalami episode binge).
    • Merasa tidak bisa untuk mengendalikan kebiasaan makan.
    • Seing makan sendirian.
    • Merasa risau & kesal dengan banyaknya makanan yang dimakan.
Masalah Kesehatan Akibat Gangguan Pola Makan
Membatasi apa yang kita makan & berolahraga memang menyehatkan. Tetapi yang tidak sehat adalah apabila selalu khawatir mengenai berat badan & apa yang kita makan. Orang yang menderita gangguan pola makan akan melakukan apapun, bahkan yang membahayakan tubuh karena obsesi mereka mengenai berat badan.

Jika tidak ditangani, anorexia nervosa & bulimia nervosa dapat menyebabkan masalah kesehatan berikut ini, yang medicastore ambil dari familydoctor.org :
  • masalah pada pencernaan.
  • masalah pada jantung.
  • masalah pada siklus mentruasi.
  • dehidrasi.
  • kulit kering & bersisik.
  • masalah pada gigi (pada bulimia nervosa).
  • timbul rambut halus di seluruh tubuh, termasuk wajah (pada anorexia nervosa).
Sedangkan pada gangguan pola makan binge eating, dapat menyebabkan masalah pada sistem pencernaan, diabetes, kolesterol & jantung akibat sering mengkonsumsi makanan yang berlemak & manis dalam jumlah banyak.

Penanganan Gangguan Pola Makan
bulimiaPenanganan gangguan pola makan tergantung dari jenis gangguan pola makan yang diderita. Tetapi secara umum, hal tersebut termasuk dengan cara psikoterapi, edukasi mengenai nutrisi & pengobatan. Jika nyawa penderita gangguan pola makan dalam bahaya, dapat diperlukan rawat inap di RS untuk menstabilkan kesehatan.

Berikut adalah uraian dari masing-masing penanganan gangguan pola makan, yang medicastore ambil dari www.mayoclinic.com :
  • Psikoterapi
    Psikoterapi secara individu dapat membantu penderita untuk merubah kebiasaan yang tidak sehat menjadi sehat. Penderita gangguan pola makan dapat mengawasi apa yang dimakan serta perasaannya, mengembangkan kemampuan untuk memecahkan masalah & mencari cara yang lebih menyehatkan untuk menghadapi situasi yang menimbulkan stres. Psikoterapi juga dapat meningkatkan kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain. Jenis psikoterapi yang disebut dengan terapi tingkah laku kognitif (cognitive behavioral therapy) biasa digunakan untuk untuk penanganan gangguan pola makan, terutama pada bulimia nervosa & binge eating. Terapi kelompok juga dapat membantu penanganan gangguan pola makan tersebut bagi beberapa orang.

    Terapi dengan keluarga juga dapat menjadi penanganan yang efektif bagi para anak-anak & remaja yang mengalami gangguan pola makan. Terapi jenis ini dilakukan dengan asumsi bahwa penderita tersebut tidak mampu untuk mengambil keputusan karena faktor kesehatannya & memerlukan bantuan dari keluarga. Peran keluarga yang penting dalam terapi jenis ini adalah bahwa keluarga terlibat untuk memastikan anak atau anggota keluarga yang lain mengikuti pola makan yang sehat & memperbaiki berat badannya. Terapi jenis ini juga dapat membantu menyelesaikan konflik keluarga & mendorong dukungan dari anggota keluarga yang lainnya.
  • Edukasi mengenai gizi & perbaikan berat badan
    Jika mengalami berat badan yang kurang akibat gangguan pola makan, tujuan pertama dari terapi adalah untuk mengembalikan berat badan kembali sehat. Berapa pun berat badan penderita, ahli gizi dapat membantu merancang diet yang sehat & juga membantu membuat pola makan yang dapat membuat penderita mencapai berat badan yang sehat serta mempunyai kebiasaan makan yang normal. Bagi penderita gangguan pola makan binge eating, akan memperoleh manfaat tambahan penurunan berat badan yang terkontrol.
  • Rawat inap
    Jika penderita gangguan pola makan mempunyai masalah kesehatan yang serius atau bagi penderita anorexia nervosa ynag menolak untuk makan atau menambah berat badan, maka dokter akan merekomendasikan rawat inap di RS, baik di bangsal medis ataupun psikiatri. Beberapa klinik ada yang mengkhususkan diri dalam perawatan gangguan pola makan sementara ada juga klinik yang menawarkan program harian. Program untuk gangguan pola makan biasanya menawarkan penanganan yang lebih intensif dalam jangka waktu yang lebih lama.
  • Pengobatan
    Obat tidak dapat menyembuhkan gangguan pola makan. Tetapi obat dapat membantu mengontrol keinginan untuk membuang makanan, binge eating ataupun kerepotan yang berlebihan dengan makanan & diet. Obat seperti misalnya anti depresi & anti cemas juga dapat membantu gejala depresi atau kecemasan, yang seringkali dihubungkan dengan gangguan pola makan.

Tidur 9 Jam Bikin Berat Badan Turun

 
Beberapa penelitian telah mengungkapkan bahwa kurang tidur bisa memicu obesitas. Karena, kurang tidur dikaitkan dengan penurunan kadar leptin (hormon yang mengontrol berat badan dan metabolisme tubuh) dan peningkatan kadar ghrelin (yang berperan dalam meningkatkan nafsu makan). Sebaliknya, jika Anda ingin langsing sebaiknya Anda tidur lebih banyak dan lebih teratur. Masalahnya, seberapa banyak tidur yang kita butuhkan agar berat badan kita menjadi turun?
Sebuah studi yang melibatkan 1.088 pasang kembar menemukan beberapa gen yang dikaitkan dengan obesitas, dan mengamati bagaimana kaitannya dengan pola tidur. Gen-gen ini memengaruhi bagaimana tubuh menggunakan energi, bagaimana lemak disimpan di dalam tubuh, perasaan kenyang setelah makan, dan seberapa cepat gula digunakan.
Dari pengamatan ini ditemukan, semakin kurang waktu tidur Anda, gen-gen ini semakin banyak memengaruhi tubuh. Pengaruh genetik pada indeks massa tubuh ternyata dua kali lebih besar pada orang yang tidur kurang dari tujuh jam, dibandingkan dengan yang tidur sembilan jam semalam.

"Hasilnya menunjukkan, kurang tidur menimbulkan lingkungan yang lebih permisif terhadap ekspresi gen yang terkait obesitas. Atau mungkin tidur yang lebih lama itu melindungi dari tekanan ekspresi gen yang terkait obesitas," papar Dr Nathaniel Watson, pemimpin studi ini.

Hasil penelitian ini menurutnya memang baru merupakan pendahuluan, namun bisa menunjukkan bahwa penurunan berat badan akan menjadi paling efektif ketika pengaruh genetik pada obesitas dikurangi dengan cara tidur lebih lama.
Untuk Anda yang selalu dihadang kesibukan, cara ini mungkin tergolong sulit dilakukan, karena tidur tujuh jam saja mungkin sudah merupakan kemewahan untuk Anda. Namun jika Anda memang berniat menurunkan berat badan dengan cara bermalas-malasan, maka hasil penelitian ini layak untuk dicoba.

Kebijakan Persebaran Penduduk


                  Kebijakan Persebaran Penduduk
Beberapa kebijaksanaan pembangunan yang ditujukan untuk menanggulangi akibat pertumbuhan penduduk yang tinggi juga ditujukan untuk mempengaruhi penyebaran penduduk. Di dalam hal ini dapat disebut transmigrasi, yang tujuan utamanya ada­lah menimbulkan pusat-pusat pengembangan baru di daerah­daerah yang tipis penduduknya. Dalam rangka itu dapat disebut pula, kegiatan-kegiatan antarkerja antardaerah yang ber­-tujuan untuk membantu penyaluran tenaga ke daerah tipis pen­duduk diluar Jawa. Contoh yang lain ialah kebijaksanaan me­ngenai pengembangan kota.
1.        Antarkerja-antardaerah
Berhubung kurang sempurnanya pasaran tenaga kerja, maka kelebihan tenaga di suatu daerah tidak dengan sendirinya ter­-salur ke daerah lain yang kekurangan tenaga kerja. Kekurangan informasi, kurang sanggupnya banyak tenaga kerja membiayai perpindahannya, adalah beberapa faktor yang menghambat perpindahan tenaga kerja dari suatu tempat ke tempat lain.
Kegiatan antarkerja antardaerah bertujuan untuk memper­temukan permintaan tenaga dengan pencari kerja. Adapun ke­giatan-kegiatan yang dilakukan adalah mengumpullkan dan me­nyebarluaskan informasi mengenai lowongan pekerjaan maupun pencari kerja. Bantuan dan fasilitas juga diberikan kepada ba­dan-badan baik pemerintah maupun swasta yang membutuhkan tenaga terutama di daerah tipis penduduk. Dengan demikian kegiatan ini membantu penyebaran penduduk lebih rata.


2.        Transmigrasi
Kebijaksanaan transmigrasi diarahkan agar mempunyai     akibat yang sebesar mungkin terhadap penyebaran penduduk      di berbagai daerah di Indonesia. Transmigrasi merupakan   bagian dari usaha untuk mengembangkan daerah yang kepadatan penduduknya masih rendah. Oleh karena itu transmigrasi tidak terbatas hanya kepada golongan petani tetapi juga transmigrasi golongan angkatan kerja lainnya sesuai dengan kebutuhan pengembangan daerah tujuan transmi­grasi. Daerah tujuan transmigrasi diharapkan berkembang menjadi pusat perkembangan baru dan dapat menarik lebih banyak penduduk untuk pindah ke daerah tersebut secara spontan.
Dalam usaha penyebaran penduduk dari Jawa ke luar Jawa, harus pula disadari adanya arus perpindahan penduduk dari  luar Jawa ke Jawa. Meningkatnya pembangunan daerah ter­masuk daerah transmigrasi dan bertambah banyaknya fasilitas sosial tersebar di daerah-daerah luar Jawa seperti fasilitas pendidikan, akan mengurangi arus balik perpindahan penduduk ini. Melalui kegiatan transmigrasi juga diharapkan dapat dipe­nuhi kebutuhan tenaga pembangunan di berbagai sektor di daerah-daerah tipis penduduk. Transmigran berasal terutama   dari daerah yang padat penduduknya di samping dari daerah kritis  yang  perlu  direhabilitasikan  dan  daerah  bencana  alam.

3.        Kebijaksanaan  Pengembangan  Kota  dan Pemecahan Masalah Kota
Untuk menghindarkan pertumbuhan terlalu cepat dari beberapa kota besar maka perlu adanya pertumbuhan yang lebih terpencar dan seimbang di antara banyak kota. Perkembangan kota secara lebih merata dibutuhkan untuk menunjang pemba­ngunan di sektor pertanian dan industri di pedesaan dan pengembangan daerah pedesaan pada umumnya, oleh karena itu perhatian lebih besar diberikan kepada pembinaan kota­-kota kecil, yaitu kota-kota yang setingkat dengan kota-kota kecamatan dan kota-kota kabupaten.  Dalam rangka menanggulangi masalah migrasi umumnya dan perpindahan penduduk dari daerah pedesaan ke daerah kota pada khususnya maka kegiatan industri diarahkan ke kota kecil.
Selanjutnya peningkatan jasa-jasa pengangkutan dan per­-luasan  jaringan  pengangkutan  akan dilaksanakan agar mobili­tas penduduk dapat ditingkatkan. Dengan demikian perjalanan penduduk pedesaan ke daerah kota tempat mereka bekerja akan lebih dimudahkan sehingga mereka tidak perlu tinggal di kota tempat mereka bekerja. Adanya perluasan jaringan lalu lintas memungkinkan lebih banyak penduduk pedesaan mengikuti program keluarga berencana.
Dalam memecahkan masalah kota maka tujuan perluasan kesempatan kerja dan pemerataan hasil dan kegiatan pemba­ngunan perlu dipegang teguh. Dalam hubungan ini maka pembangunan berbagai fasilitas kota sejauh mungkin dapat merangsang terciptanya kesempatan kerja lebih luas, baik secara langsung  maupun  tidak  langsung.  Juga  di dalam berba­-gai kebijaksanaan kota perlu dihindarkan agar ruang gerak usaha  bagi pedagang kecil dan usaha kecil lainnya tidak men­-jadi lebih sempit.
Dalam rangka pemerataan pendapatan riil maka sistem pajak disempurnakan agar warga kota yang berpenghasilan tinggi dapat  menanggung  beban  pembangunan  kota  lebih  besar.  Seja­-lan dengan itu layanan sosial lebih luas seperti penyediaan air minum, kesehatan, dan lain-lain lebih diarahkan kepada penduduk yang berpendapatan rendah di kota.

Program Pemerintah dalam Kebijakan Pertumbuhan Penduduk


     http://www.sumutdaily.com/images/stories/KB.jpg
       1.   Keluarga berencana
Keluarga berencana merupakan usaha pokok di dadam kebi­jaksanaan kependudukan umumnya dan usaha menurunkan tingkat kelahiran khususnya. Usaha menurunkan kelahiran me­lalui keluarga berencana sekaligus dikaitkan dengan meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak. Sasaran usaha keluarga beren­cana adalah seluruh lapisan masyarakat dan jangkauan daerah usaha keluarga berencana diperluas ke daerah luar Jawa dan daerah pedesaan. Tujuan usaha keluarga berencana bukan hanya memperbanyak jumlah akseptor tetapi mempertahankan  agar keluarga-keluarga penerima tetap melaksanakan keluarga berencana.
Oleh karena berhasilnya keluarga berencana pada akhirnya akan ditentukan oleh kesadaran pada masing-masing keluarga,  maka cara yang ditempuh dalam keluarga berencana akan me­nekankan bukan hanya cara-cara klinis tetapi juga cara-cara nonklinis. Selanjutnya kegiatan pembangunan di dalam berbagai bidang diserasikan agar dapat menunjang pelaksanaan keluarga berencana. Kegiatan ini mencakup pendidikan dan pendidikan kependudukan, motivasi ke arah keluarga kecil, dan menurunkan angka kematian anak-anak.
  1. Pendidikan dan pendidikan kependudukan
Intensifikasi pendidikan baik formal maupun nonformal akan meningkatkan kesadaran dan pengetahuan mengenai masalah penduduk dan pentingnya pelaksanaan keluarga berencana. Te­tapi untuk lebih menyebarluaskan informasi mengenai kependu­dukan maka pendidikan kependudukan diintegrasikan ke dalam sistim pendidikan dan mencakup lembaga pendidikan guru, pen­didikan tingkat sekolah menengah dan pendidikan orang dewasa. Para lulusan sekolah menengah dan orang dewasa amat memerlukan informasi mengenai kependudukan oleh sebabmereka inilah yang akan membentuk keluarga dalam waktu    relatip singkat.
  1. Motivasi ke arah keluarga kecil
Usaha untuk memberikan motivasi ke arah tercapainya keluarga kecil dengan jumlah anak yang sedikit ditingkatkan. Dalam hubungan ini pemberian tunjangan keluar­ga dan kelonggaran lainnya di dalam sistem penggajian, pajak dan lain-lain, akan ditinjau dan disesuaikan dengan kebijaksanaan kependudukan. Selanjutnya sistem jaminan sosial teruta­ma untuk hari tua setahap demi setahap mulai ditingkatkan. Peningkatan sistem jaminan sosial ini penting oleh sebab masih luasnya pandangan bahwa banyak anak berarti banyak rezeki.
  1. Menurunkan angka kematian anak-anak
Salah satu motivasi untuk mempunyai jumlah anak yang ba­nyak ialah bahwa anak merupakan sumber untuk meningkatkan pendapatan bagi keluarga berpendapatan rendah. Banyaknya anak yang tidak meneruskan sekolah adalah keadaan yang tim­bul oleh sebab rendahnya pendapatan orang tua mereka dan anak-anak ini dibutuhkan untuk dapat sekedar menambah pen­dapatan keluarga. Semakin tinggi tingkat kematian dikalangan anak dan bayi semakin besar pula kebutuhan akan tingkat kelahiran yang tinggi. Semakin banyak anak-anak yang lahir   dan hidup dan mencapai umur dewasa semakin kecil kebutuhan untuk jumlah kelahiran yang besar. Oleh karena itu usaha untuk lebih meratakan hasil pembangunan akan menunjang usaha keluarga berencana di dalam menurunkan angka kela­hiran. Selanjutnya usaha-usaha di bidang kesehatan umumnya   dan usaha meningkatkan kesehatan ibu dan anak dan menu­runkan angka kematian anak khususnya merupakan bagian daripada ikhtiar menurunkan tingkat kelahiran
  1. Program Kesehatan Reproduksi Remaja
Tujuan program ini untuk meningkatkan pemahaman, pengetahuan, sikap dan perilaku positif remaja tentang kesehatan dan hak-hak reproduksi, guna meningkatkan derajat kesehatan reproduksinya dan mempersiapkan kehidupan berkeluarga dalam mendukung upaya peningkatan kualitas generasi mendatang. Kegiatan pokok yang dilakukan antara lain meliputi:
a.       Mengembangkan kebijakan pelayanan kesehatan reproduksi remaja bagi remaja.
b.      Menyelenggarakan promosi kesehatan reproduksi remaja, termasuk advokasi, komunikasi, informasi, dan edukasi, dan konseling bagi masyarakat, keluarga, dan remaja.
c.       Memperkuat dukungan dan partisipasi masyarakat terhadap penyelenggaraan program kesehatan reproduksi remaja yang mandiri.

Template by:

Free Blog Templates